The Uncomfortable Day

Today I feel not so good. I feel anxious and worried.

It started when I open my social media account (path/FB/twitter) today, and then I face the reality: Some friends celebrate their 4th wedding anniversary. Yes, 2009 was the year when some best friends getting married. 4 years ago.

Then suddenly I feel so sad. What did I do while my friends already celebrate their 4 years of marriage? They even already have kids. And their kids can running and start going to school. Then how about me? What did I do?

It was so uncomfortable especially when you got this feeling while you are in the middle of working (oh yes, these feeling come while my brain working for structural evolution at Savu Basin :|). But, instead of start asking God why I haven’t married and build a happy family, I let my memories flies. I let my brain start to remember the 2009 memories…

1. It was the time when I have a very interesting field trip around Pekanbaru-Ombilin-Bukittinggi-Padang. The very best trip with best friends. And yes, we also visited the beautiful Sikuai Island. We also spend a night at Ambacang Hotel, before it was destroyed by Padang earthquake in the next few month.

2. It was the very first time I have a backpacking trip with my best friends. We went to Singapore via Batam, slept in a Hostel with 5 bunk in a room, with a so less money. It was very nice memories. Oh, and because of this trip, I got my very first stamp at my passport!

3. It was the time I gave a presentation in English, in front of some professional Geologist, in the semi-international event, and be judged. And, it was the time when I awarded as the Best Presenter at that event :’)

4. It was the time when I got my Master’s Degree :’)

5. It was the time when my research got accepted by an international event. I got my first visa and it was the first time I am going abroad outside Asia. Yes, I am going to UK :’)

“So which of the favors of your Lord would you deny?” – (55:13)

It’s just 5 memories of 2009 that I remember the most, but I feel so blessed. I may never been married. Maybe I am still dreaming about having a happy family while a lot of my friends already started it since 4 years ago. But I know, God always have a best plan for me. I believe everything happen for a reason. There are some reason, why God want me to do a lot of things instead of getting married first. I believe His plan will always best.

It will be “beautiful in its time”. It will be.

Quotes – The Iron Lady

Young Denis Thatcher: Margaret, will you marry me?

Young Denis Thatcher: [pause -Margaret stares at him] Well?

Young Margaret Thatcher: [pause -Margaret is still staring, Dennis kisses her hand] Yes. Yes!

Young Denis Thatcher: [Margaret starts to cry from happiness, Dennis leans in for a kiss, but she suddenly pulls back] What?

Young Margaret Thatcher: I love you so much but, I will never be one of those women, Dennis. Who stays silent and pretty on the arm of her husband. Or remote and alone in the kitchen -doing the washing up, for that matter.

Young Denis Thatcher: [Interrupts] I’m going to help with that…

Young Margaret Thatcher: No. One’s life must matter, Dennis. Beyond all the cooking and the cleaning and the children. One’s life must mean more than that. I cannot die washing up a teacup! I mean it, Dennis. Say you understand.

Young Denis Thatcher: That’s why I want to marry you, my dear.

This dialogue is the best part from The Iron Lady movie for me.

I know, I have never been a wife and a mother. And I know, every woman has their own choices and decisions. But for me, one’s life should be meaningful. I just do not want to regret in the future, simply because I do not use the time wisely that granted by God. I know God will guide me to the straight path.

Salam – Houston, USA

“Assalamualaikum wr. wb..”

“Waalaikumsalam wr. wb..”, jawabku sambil menoleh ke sumber suara tersebut.

Seorang laki-laki berwajah timur tengah tersenyum dihadapanku. Dia berdiri diantara lautan orang Amerika yang berlalu-lalang untuk menyaksikan presentasi poster diajang pertemuan akbar konferensi AAPG (Association of American Petroleum Geologist) tersebut.

“Hai, my name is Ahmed. Are you from Malaysia?”, Ia menyapaku dengan ramah.

“Hai Ahmed. I am Putri. No, I am not Malaysian, I am from Indonesia”, jawabku sambil tersenyum.

“Ah, Indonesia! Subhannallah! I am from Egypt anyway”, sahutnya sambil menyalamiku.

Kami pun bercakap-cakap. Ternyata Ahmed dari Mesir ini adalah mahasiswa dari Imperial College, London. Dia bercerita bahwa dia berkesempatan datang ke acara AAPG ini karena dia memiliki riset yang dipresentasikan bersama tim dari kampusnya. Dia juga bertanya padaku apakah aku juga hadir untuk mempresentasikan risetku, dan aku pun menjawab hal yang sama dengannya. Kalimat “Subhanallah” berkali-kali terucap dari mulutnya yang selalu menyunggingkan senyum. Kami pun mengobrol santai ditengah-tengah hiruk pikuk peserta konferensi yang didominasi penduduk Amerika tersebut.

Seusai mengobrol dengan Ahmed aku termenung. Ya, aku sedang sendirian di kota ini. Aku menempuh perjalanan panjang dari Indonesia sendirian. Walaupun sesampainya di Houston aku menginap di rumah temanku yang tinggal disana, namun aku pun kembali sendiri ketika hadir di acara konferensi tempat aku melakukan presentasi risetku. Rasanya tidak percaya ada seseorang yang menyapaku ditengah ribuan orang asing yang tidak aku kenal.

Dan kemudian aku tersadar. Ahmed menyapaku karena dia mengenaliku sebagai seorang muslim. Ahmed mengenaliku sebagai muslim karena hijabku. Ya, Ahmed tidak akan menyapaku jika dia tidak tahu apakah aku seorang muslim. Seketika aku menyadari betul, bahwa hijab ini telah membawaku untuk mengenal seseorang dan mendapat teman baru. Hijab ini telah memberikanku sebuah identitas, yang membuatku dikenal sebagai seorang muslim, dan membawaku untuk bertemu dengan sesama saudara muslim di berbagai belahan dunia manapun.

Aku mengucap syukur yang amat dalam kepada Allah SWT. Alhamdulillah.. aku bersyukur berhijab. Hijab ini lebih dari sekedar menutup aurat. Hijab ini adalah identitas dan dapat menjadi penyambung bagi setiap muslim dimanapun dia berada.

 

 

Mengenal Bumi di Kelas Inspirasi

Pada tanggal 20 Februari 2013, saya mengikuti kegiatan Kelas Inspirasi yang diadakan oleh Indonesia Mengajar. Bersama 11 relawan lain yang berprofesi sebagai Trainer, Field Engineer, Account Manager, Praktisi Human Capital, Travel Writer, Statistician, Wirausahawan, Dokter, Planner, Corporate Treasurer, dan 1 orang Fotografer, kami mendapat tempat mengajar di SDN Ancol 03, Ancol, Jakarta. Sekolah ini letaknya di daerah Ancol dan cukup dekat dengan Stasiun Kota dan Museum Bank Mandiri. Sekolah ini cukup besar, namun akses jalan menuju sekolah tersebut sangat kecil. Sebelum menemukan sekolah tersebut, kami melewati jalan kecil yang hanya dapat dilewati 1 mobil (itu pun dengan ekstra hati-hati), dengan deretan rumah tinggal di sepanjang jalan. Di ujung jalan tersebut, terdapat 2 bangunan sekolah yang cukup besar dan salah satunya adalah SDN Ancol 03.

IMG_6808

Suasana perumahan di sekitar SDN Ancol 03. (Foto oleh: Antin Sambodo)

IMG_6816

SDN Ancol 03 (Foto oleh: Antin Sambodo)

IMG_6818

Suasana SDN Ancol 03. Cukup besar dan memiliki lapangan yang cukup luas. (Foto oleh: Antin Sambodo)

Sesuai profesi saya, yaitu Geologist, di hari tersebut saya akan memperkenalkan profesi Geologist kepada siswa/i SD tersebut. Agar menarik perhatian mereka, saya membawa peralatan Geologist berupa Kompas dan Lup (saya tidak cukup berani untuk membawa palu geologi mengingat saya mengajar anak-anak SD) dan contoh-contoh batuan dan fosil yang saya miliki. Selain itu, saya juga membawa gambar-gambar mengenai bumi, batuan, hingga proses eksplorasi minyak dan gas bumi. Di SD tersebut saya mendapat bagian untuk mengajar kelas 5, 4 (A & B), dan kelas 1. Supaya semakin menarik, saya hadir dengan menggunakan kostum Geologist ketika di lapangan, yaitu rompi, topi lapangan, mengalungkan lup & kompas, dan tentunya membawa ransel.

Alhasil ketika saya masuk ruang kelas, anak-anak tersebut langsung fokus memperhatikan (kostum) saya. Saya pun membuka kelas dengan pertanyaan, “Anak-anak ada yang tau pekerjaan Ibu apa?”

Serempak anak-anak tersebut menjawab, “PETUALANG!!”

Jawaban yang menyenangkan mengingat teman saya yang merupakan Field Engineer dan hadir dengan coverall dan helm-nya ditebak oleh anak-anak tersebut sebagai Pemadam Kebakaran atau Montir :-D

IMG_1941

Saya mengajar anak-anak tersebut dengan mengenakan pakaian lapangan. (Foto oleh Zulfikar Pratama)

IMG_6975

Sebagian perlengkapan yang saya bawa untuk mengajar. (Foto oleh: Antin Sambodo)

Saya mengawali kegiatan mengajar kepada siswa/i kelas 5. Saya memperkenalkan profesi Geologist sebagai Ahli Bumi. Untuk dapat menjadi Ahli Bumi, tentunya mereka perlu mengenal bumi dengan baik. Saya pun menjelaskan kepada mereka dimulai dari bentuk bumi yang bulat dan didalamnya terdiri dari bermacam-macam lapisan. Ada sedikit hal yang mengejutkan saya. Ini adalah kali kedua saya mengikuti Kelas Inspirasi. Tahun lalu, saya juga mengajarkan hal yang serupa kepada siswa/i SD di SDN Kampung Bali 01 yang letaknya di daerah Tanah Abang, Jakarta. Di SD tersebut, siswa kelas 5 sudah mengenal interior bumi (inti, mantel, kerak)  dan jenis-jenis batuan (batuan beku, sedimen, metamorf). Dan ketika saya mengajar di SDN Ancol 03 ini, siswa/i kelas 5 hanya bengong ketika saya bertanya apakah mereka tahu bentuk bumi seperti apa. Jangankan untuk tahu interior bumi, bentuk bumi bulat saja pun mereka baru “ngeh”. Dan yang lebih seru lagi, beberapa pertanyaan yang saya lontarkan, mereka jawab dengan berbagai reaksi seperti:

  • Saya (S): “Tau ngga bumi itu terdiri dari apa saja?”/Anak-anak (A): *berebutan menjawab dengan heboh* “Bulan! Awan! Langit!”
  • S: *menjelaskan bahwa di permukaan bumi ada dataran dan lautan* “Nah, di dataran itu ada apa saja?”/A: “Rumah! Semen!”

Jawaban yang cukup seru, terutama ketika mengingat mereka adalah kelas 5 SD yang sebelumnya saya ketahui di SD lain sudah mempelajari tentang bumi bahkan mengenali jenis-jenis sumber daya alam seperti batubara, nikel, emas, minyak bumi, dll. Akhirnya saya pun memulai aktivitas mengajar saya dengan berasumsi bahwa anak-anak ini belum mengenal bumi sama sekali. Saya ceritakan bentuk bumi, umur bumi, dan mengenalkan jenis-jenis batuan. Tentunya saya juga mengenalkan kepada mereka jenis-jenis sumber daya alam yang berasal dari bumi dan peranan Geologist dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.

Kelas selanjutnya adalah kelas 4. Dengan berasumsi bahwa kelas 5 saja belum mengenal bumi seperti apa, saya menjadi lebih siap untuk memulai proses mengajar dengan mengenalkan bumi dari awal. Namun, kelas 4 di SD ini yang terdiri dari 2 kelas (A & B), sangat menyenangkan. Mereka sangat antusias dan kritis dalam bertanya. Bahkan yang cukup mengejutkan, ketika saya menerangkan tentang sumber daya alam, beberapa dari mereka bahkan ada yang mengenal batubara dan nikel. Dan ketika saya menjelaskan jenis-jenis batuan serta mengeluarkan contohnya, mereka berebutan untuk melihat langsung dan ingin mencoba lup yang saya bawa.

IMG_6945

Saya membagikan “Kartu Batuan” pada siswa/i kelas 4 & 5, untuk memudahkan mereka mengenal jenis-jenis batuan. (Foto oleh: Antin Sambodo)

IMG_6948

Siswa kelas 4 berpose setelah mendapat Kartu Batuan. (Foto oleh: Antin Sambodo)

IMG_6940

Siswa/i kelas 4 ketika masih serius mendengarkan penjelasan mengenai jenis-jenis batuan. (Foto oleh: Antin Sambodo)

IMG_6972

Siswa/i kelas 4 yang sangat antusias untuk bertanya dan berebut untuk melihat contoh batuan. (Foto oleh: Antin Sambodo)

Selain itu, saya juga memperkenalkan skala waktu geologi kepada siswa/i kelas 4 & 5 ini, untuk memperkenalkan umur bumi dan batuan. Untuk membuat mereka lebih mudah memahami, saya pun memperlihatkan kepada mereka gambar skala waktu geologi yang dibuat dalam gambar menarik. Seusai saya mengajar, mereka meminta gambar tersebut, padahal saya tidak mencetak cukup banyak. Akhirnya saya memberi masing-masing satu gambar untuk setiap kelas dan berkata kepada mereka bahwa gambar itu untuk bersama. Yang mengejutkan, mereka menempel gambar tersebut dikelasnya sambil berkata, “Ditempel disini ya Bu, jadi bisa dilihat bersama-sama”. Ah, sebuah momen yang sangat menyentuh hati saya.

IMG_20130221_155837

Gambar skala waktu geologi untuk anak-anak.

20130220_093640

Anak-anak menempel gambar skala waktu geologi yang mereka minta dikelasnya, untuk dapat dilihat bersama-sama.

Tantangan yang paling seru adalah mengajar di kelas 1!

Jelas tidak mungkin menjelaskan interior bumi secara mendetail kepada mereka. Apalagi menjelaskan jenis-jenis batuan kepada mereka. Sebelum saya masuk kelas saja mereka sudah berhamburan berlari-lari di depan kelas. Tentunya saya sudah bersiap untuk mengatasi anak-anak ini. Setelah mereka duduk di bangku masing-masing, saya ajak mereka bernyanyi dan bertepuk tangan. Kemudian saya jelaskan sedikit bahwa saya adalah seorang Geologist yang bertugas mengenal bumi. Saya sedikit menjelaskan kepada mereka bahwa bumi itu bentuknya bulat dan terdiri dari beberapa lapisan didalamnya. Sebelum mereka mulai gelisah karena bosan saya pun segera mengeluarkan lembar mewarnai bumi untuk mereka warnai. Dan wajah-wajah semangat pun muncul kembali dihadapan saya tentunya diiringi dengan teriakan, “Bu saya Bu! Saya mau mewarnai Bu!”

P1017317

Lembar mewarnai Bumi yang merupakan senjata saya untuk menghadapi anak-anak kelas 1, agar mereka tetap dapat belajar tentang bumi sambil bermain.

IMG_2118

Suasana ketika anak-anak kelas 1 sedang asyik mewarnai. (Foto oleh: Zulfikar Pratama)

IMG_2197

Suasana ketika sebagian besar anak-anak kelas 1 sudah berhasil menyelesaikan tugas mewarnainya. Anak-anak ini mulai heboh ingin melihat gambar-gambar peraga yang saya gunakan untuk mengajar sebelumnya. (Foto oleh: Zulfikar Pratama)

IMG_2192

Hampir sebagian besar anak-anak kelas 1 tersebut mewarnai bumi dan interiornya dengan warna sesuka hati mereka. Namun, anak ini berhasil mewarnai dengan sempurna. Bahkan dia dapat membedakan dataran dan lautan dengan sempurna. Hebat! (Foto oleh: Zulfikar Pratama)

Mengajar anak-anak kelas 1 tersebut menutup acara mengajar saya di Kelas Inspirasi 2 ini. Sangat menyenangkan bisa mengenalkan ilmu bumi dan profesi Geologist kepada mereka. Banyak hal yang mengesankan yang saya dapat ketika mengajar di SDN Ancol 03 ini. Berbagai tingkah lucu anak-anak dan antusiasme mereka pada ilmu bumi adalah hal yang paling mengesankan bagi saya. Terlebih ketika saya sempat bertanya pada anak kelas 4, apakah diantara mereka ada yang berminat menjadi Geologist, dan lebih dari separuh kelas menjawab heboh sambil mengacungkan tangan, “Saya Bu! Saya!”.

Dan tentu saja, pertanyaan-pertanyaan seru dan kritis dari mereka tidak akan pernah saya lupakan, seperti:

“Bu, magma itu panas ya?”

“Bu, batu ini kalo dipecahin ada emasnya ngga?”

“Bu, aku mau naik gunung, ajak aku dong naik gunung”

“Bu, ajak aku ke museum yang bisa liat batu-batu gini dong”

“Bu, inti bumi warnanya apa?”

Menyenangkan sekali bisa berbagi ilmu bumi kepada siswa/i SDN Ancol 03 pagi. Saya berharap semakin banyak siswa/i SD di negeri kita ini yang antusias untuk mengenal bumi. Dan tentu saja, saya berharap siswa/i SDN Ancol 03 semakin rajin belajar dan tumbuh menjadi generasi terbaik di masa yang akan datang.

IMG_2242

Foto bersama kami dengan siswa/i dan guru-guru SDN Ancol 03. (Foto oleh: Zulfikar Pratama)

Saya Bertemu Dengan Mereka yang Tulus

Ini adalah kali kedua saya ikut Kelas Inspirasi. Ketika sesi pendaftaran Kelas Inspirasi 2 dibuka, saya langsung mantab untuk ikut lagi. Semua pengalaman mengajar di tahun lalu seakan terputar kembali dan tidak terhapus sedikit pun dari memori saya. Binar mata anak-anak itu ketika saya perlihatkan contoh batuan yang saya bawa hingga pertanyaan-pertanyaan lucu, semua mendorong saya untuk semakin mantab mendaftar lagi di Kelas Inspirasi 2 ini.

Saya sungguh bersyukur saya bisa terlibat lagi di acara ini.

Sebelum saya terkesan dengan pengalaman mengajar saya, saya sudah tak henti berdecak kagum melihat teman-teman sesama relawan. Saya speechless ketika berada di satu ruang bersama 700-an relawan dari berbagi profesi. Saya meneteskan air mata ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama mereka.  Saya berada dalam ruang penuh energi positif. Saya mengucap syukur yang teramat dalam. Saya melihat betapa Indonesia begitu dicintai rakyatnya. Betapa banyak mereka yang rela, ikhlas, tulus untuk berbuat sesuatu untuk bangsa ini. Betapa banyak mereka yang ingin menitipkan masa depan yang jauh lebih baik kepada anak bangsa.

Seperti kata bapak Anies Baswedan ketika memberikan sambutan di acara briefing tersebut, inilah sosok-sosok yang sesungguhnya menggerakkan bangsa Indonesia. Para profesional inilah yang setiap harinya menggerakkan ekonomi bangsa. Mereka tidak terlihat di televisi atau media lainnya, tapi karena merekalah ekonomi bangsa kita bergerak setiap harinya. Sesuatu yang selalu luput dari penglihatan kita, karena hampir setiap hari kita hanya disuguhi berita menyedihkan yang terjadi di negara kita.

Kekaguman saya semakin menjadi-jadi ketika berkenalan dengan teman-teman baru sesama relawan. Saya berada satu kelompok dengan teman-teman dari berbagai profesi yang mengagumkan, yaitu Trainer, Field Engineer, Account Manager, Praktisi Human Capital, Travel Writer, Statistician, Wirausahawan, Dokter, Planner, Corporate Treasurer, Fotografer. Jangankan anak-anak SD, saya sendiri pun kagum dengan profesi mereka! Belum lagi ketika berkenalan dengan relawan dari kelompok lain, banyak sekali profesi yang inspiratif. Dan dari profesi yang sama dengan saya pun, yaitu Geologist, cukup banyak yang turut serta mengambil peran sebagai relawan dalam Kelas Inspirasi ini.

Ah, rasanya kurang kalau hanya disebut terharu. Saya lebih dari sekedar terharu. Dan ada perasaan senang terbersit ketika menyadari bahwa saya baru mengenal teman-teman baru ini, tapi rasanya seperti sudah mengenal mereka sejak lama. Tidak ada rasa canggung, semua langsung akrab. Saya sempat berpikir kenapa bisa seperti ini. Apakah karena semua memiliki energi positif yang sama? Atau karena semua memiliki visi dan misi yang sama? Yang jelas, semua memiliki ketulusan yang sama.

Dan semua kekaguman itu seakan tidak pernah berhenti. Terlebih ketika melihat segala persiapan dan kreativitas yang dilakukan mereka semua itu untuk membuat anak-anak mengerti profesinya apa. Juga ketika melihat kesukarelaan teman-teman untuk meluangkan waktunya, walaupun sekolah yang didapat letaknya entah dimana, walaupun rumah mereka jauh.

Mereka adalah para profesional yang hebat. Mereka luar biasa dan mereka tulus. Semakin merinding rasanya ketika melihat bahwa para profesional ini terdiri tidak hanya berbagai profesi, tapi juga berbagai jabatan dan usia. Dari staf hingga level CEO. Dari karyawan hingga pengusaha. Usianya pun beragam. Ketika acara debriefing, saya tidak dapat menahan rasa kagum saya ketika mengetahui seorang Bapak Dokter yang berusia 81 tahun ikut ambil bagian dalam acara ini. Ada seorang profesor yang usianya sudah 70 tahun lebih. Dan banyak pemuda-pemudi dengan usia termuda 18 tahun. Semua rela bersatu padu meluangkan waktu untuk berbagi, berperan serta dalam pendidikan, dan menitipkan masa depan yang baik kepada anak-anak bangsa.

“Today, good people are connected…”

Sebuah kalimat dari bapak Anies Baswedan di saat debriefing Kelas Inspirasi itu membuat hati saya tersentuh. Ya, di hari itu berkumpul semua profesional, dari muda hingga tua, yang memiliki ketulusan luar biasa. Mereka tidak lagi memikirkan perbedaan, entah berbeda usia, profesi, dan jabatan. Mereka berpikir bahwa posisi kita sama, ingin membuat Indonesia lebih baik lewat pendidikan. Mereka memiliki tujuan yang sama, ingin bangsa ini maju terus dan tidak terpuruk. Setiap dari mereka adalah inspirasi untuk semua.

Mengikuti Kelas Inspirasi 2 ini menyadarkan saya bahwa betapa Indonesia begitu dicintai rakyatnya. Betapa banyak rakyat Indonesia yang yakin bahwa negara ini pasti maju dan mengejar semua ketertinggalan yang ada. Betapa rakyat Indonesia dari berbagai usia dan profesi siap maju di garis depan untuk membawa Indonesia ke posisi yang terbaik.

Saya bertemu dengan mereka yang tulus. Saya bertemu dengan guru-guru yang luar biasa. Dan saya bertemu dengan ratusan anak bangsa yang pasti membawa masa depan Indonesia dengan sangat baik.

Saya optimis pada Indonesia.

IMG_2248

Kelompok 48 yang seru dan terbaik! (Foto oleh: Zulfikar Pratama)

4 Kesan Pertama di Jepang

Perjalanan ke negeri Bunga Sakura memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Tentunya pengalaman yang mengesankan selain melihat keindahan Gunung Fuji, hiruk-pikuk Shibuya & Harajuku, serta megahnya Tokyo Sky Tree. Berikut ini 4 hal pertama yang menarik perhatian saya saat baru tiba di Jepang.

Toilet Umum

Ketika saya baru mendarat di bandara Haneda, Tokyo, hal yang pertama saya temui di Jepang adalah toilet umum yang bersih dan super canggih. Perjalanan selama 6 jam dari Kuala Lumpur yang melelahkan pun rasanya langsung hilang ketika menemukan toilet yang bersih dan wangi yang sangat mendukung untuk bersih-bersih. Kloset pada toilet tersebut sangat nyaman dan memiliki bermacam-macam tombol yang dapat disesuaikan untuk berbagai kebutuhan. Selain tombol flush, ada juga tombol khusus untuk mengeluarkan air sebagai pembersih setelah (maaf) buang air kecil dan besar. Hebatnya, tekanan air tersebut dapat kita atur dan kita pun dapat memilih apakah ingin menggunakan air hangat atau biasa saja. Wow!

IMG-20121015-00604

Toilet umum di bandara Haneda, Tokyo.

IMG-20121015-00602

Tombol-tombol toilet yang dilengkapi petunjuk penggunaan sehingga memudahkan pengunjung yang belum pernah menggunakan toilet ini. Tersedia pula 2 gulung tissue yang bersih dan nyaman digunakan sebagai pelengkap.

Saya pun penasaran, apakah semua toilet umum di Jepang kondisinya seperti ini. Ternyata tidak juga. Toilet umum yang tersedia di tempat-tempat ramai seperti stasiun, tidak memiliki fasilitas tombol-tombol canggih dan serbaguna tersebut. Namun, toilet-toilet tersebut tetap bersih dan nyaman digunakan. Toilet umum yang canggih ini saya temui lagi di kawasan umum seperti mall dan perkantoran. Yang menarik, tombol di toilet tersebut selain berfungsi sebagai sarana pembersih ada juga yang berfungsi untuk mengeluarkan suara ketika kita men-flush toilet. Unik sekali dan membuat saya berpikir sebenarnya apa fungsi tombol tersebut yang sesungguhnya. Kemudian salah seorang teman saya yang tinggal di Jepang menjelaskan, ternyata tombol berlambang not balok tersebut digunakan oleh pengguna toilet untuk menyamarkan suara-suara yang dikeluarkan ketika mereka (maaf) buang air besar. Wow! Sampai hal seperti ini dipikirkan. Memang terkadang kita melakukan flush pada toilet untuk menyamarkan suara-suara yang tertentu saat kita buang air besar. Namun, seperti yang kita ketahui melakukan flush pada toilet berulang-ulang akan membuang air secara percuma. Dan orang Jepang memikirkan hal tersebut dengan baik, sehingga mereka membuat tiruan suara flush. Luar biasa!

IMG-20121021-00910

Tombol fungsional di toilet yang dilengkapi dengan tombol untuk mengeluarkan suara tiruan flush. Tombol tersebut ditandai dengan gambar not balok (sisi paling kanan gambar).

Pemandian Umum

Hal lain yang menarik perhatian saya dengan Jepang adalah tersedianya fasilitas pemandian umum di banyak tempat. Selama perjalanan saya di Jepang, saya menjumpai beberapa pemandian umum baik yang gratis maupun berbayar. Pemandian umum berbayar yang saya temui pertama kali ada di bandara Haneda, Tokyo. Pemandian umum ini sangat nyaman dan tampak berkelas. Ketika memasuki pemandian umum ini, kita akan disambut oleh resepsionis yang sangat fasih berbahasa inggris. Kemudian kita akan diberi perlengkapan untuk mandi berupa handuk besar dan kecil serta sandal. Ketika kita memasuki kamar mandi, fasilitasnya sangat lengkap. Terdapat shower dengan air dingin dan panas, wastafel, sabun, shampoo, hingga pengering rambut/hair dryer. Di pemandian umum ini kita diberi waktu 30 menit untuk menggunakannya. Tarif yang perlu kita bayarkan adalah 800 yen/30 menit.

Kamar mandi yang dilengkapi dengan shower dan wastafel

Kamar mandi yang dilengkapi dengan shower dan wastafel

Fasilitas pelengkap seperti handuk hingga pengering rambut juga disediakan

Fasilitas pelengkap seperti handuk hingga pengering rambut juga disediakan

Pemandian umum lain saya temui adalah pemandian umum tradisional di daerah Yudanaka, Nagano. Daerah ini memiliki mata air panas alami yang (hebatnya) dapat tersalurkan ke setiap rumah yang ada, sehingga hampir setiap rumah yang ada memiliki fasilitas pemandian umum baik berbayar maupun tidak. Beberapa rumah bahkan telah berubah fungsi menjadi penginapan bergaya Jepang (Ryokan) yang tentu saja menjual kenikmatan pemandian air panas dari mata air panas alami tersebut. Pemandian umum tidak berbayar yang saya temui bergaya seperti pemandian tradisional Jepang pada umumnya, yaitu sebuah bak mandi besar dengan air panas didalamnya. Pemandian umum ini terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Kita diizinkan masuk ke bak mandi tersebut setelah sebelumnya membilas tubuh kita hingga bersih. Di daerah Yudanaka, ini pemandian gratis ini tersebar dimana-mana. Kita hanya perlu meminta kunci pemandian kepada pemilik pemandian tersebut yang biasanya rumahnya berada tepat di depan pemandian umum tersebut.

Pemandian umum tradisional di daerah Yudanaka, Nagano yang menggunakan mata air panas alami

Salah satu pemandian umum tradisional di daerah Yudanaka, Nagano

Selain pemandian umum gratis tersebut, di Yudanaka kita juga dapat menemui versi lain pemandian umum tradisional yang berbayar. Saya juga sempat mencoba pemandian umum berbayar tersebut, milik seorang ibu-ibu penduduk disana. Ibu tersebut berkata bahwa air panas di pemandian umum miliknya benar-benar langsung dari mata air alami yang keluar di halaman rumahnya. Memang, ada beberapa rumah di Yudanaka ini yang memiliki langsung mata air panas alami yang keluar di rumahnya. Berbeda dengan pemandian umum gratis, pemandian umum berbayar ini berupa kolam yang berisi air panas yang berada di ruang khusus namun dalam suasana alam yang terbuka. Tarif yang dikenakan untuk menikmati pemandian ini adalah 500 yen/orang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pemandian umum berbayar di Yudanaka berupa kolam dengan mata air panas alami dan berada di ruang terbuka dengan suasana alam

Kebiasaan Mengantri

Kebiasaan mengantri masyarakat Jepang adalah favorit saya!

Ketertiban masyarakat Jepang adalah hal yang membuat saya jatuh cinta pada negara tersebut. Di fasilitas umum manapun yang saya temui, masyarakat Jepang selalu tertib dan mengantri dengan rapi untuk menunggu giliran mereka mendapatkan fasilitas umum tersebut. Baik itu menunggu untuk naik kereta, menunggu menggunakan toilet, memasuki tempat parkir, menunggu giliran membeli makanan, menunggu giliran untuk menyebrang, dan sebagainya. Saya sangat kagum dengan ketertiban dan kedisiplinan mereka. Baik orang tua, muda, pekerja, anak sekolah, semua tertib dan disiplin dalam mengantri dan menggunakan fasilitas umum. Ketika antri menunggu kereta, antrian mereka selalu berjajar rapi dan berbentuk garis lurus sempurna. Ketika menyebrang mereka sangat tertib bahkan ketika tidak ada mobil lewat sekali pun, mereka tertib pada lampu pengatur jalan. Saya pun bertanya-tanya, bagaimana ya cara membuat masyarakatnya bisa demikan terdidik dan rapi?

IMG-20121019-00715

Antrian masyarakat Jepang saat menunggu kereta datang di stasiun

IMG-20121022-00993

Antrian menunggu kereta seperti ini selalu berjajar rapi di setiap waktu

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Posisi saya dan adik saya ketika berada di jalur antrian super rapi ketika akan menaiki Shinkansen.

IMG-20121016-00628

Jalur penyebrangan yang sangat tertib dan rapi dengan masyarakat Jepang yang tertib mengantri sebelum menyebrang jalan

IMG-20121020-00865

Seorang ibu dan anaknya menunggu dengan tertib giliran untuk menyebrang. Walaupun jalanan tampak kosong, tapi mereka tetap menunggu dengan tertib sampai giliran menyebrang mereka tiba.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Untuk membeli takoyaki pun masyarakat Jepang tetap antri dengan rapi

Hotel Kapsul di Spa Safro!

Saat mengunjungi Jepang, saya sudah mengalokasikan 1 malam untuk menginap di Hotel Kapsul. Ya, saya sangat penasaran dengan hotel yang satu ini. Dari hasil survey saya pun menemukan banyak Hotel Kapsul yang menarik dengan harga terjangkau di beberapa kota di Jepang. Akhirnya saya memutuskan untuk menginap di Hotel Kapsul ketika saya berada di Sapporo, Hokkaido. Nama Hotel Kapsul tempat saya menginap adalah Spa Safro.

Beberapa teman yang pernah berkunjung ke Jepang dan menginap di Hotel Kapsul, bercerita bahwa hotel ini adalah konsep hotel sederhana yang hanya menyediakan tempat tidur dalam sebuah ruang sempit, seperti di dalam kapsul. Pemandiannya pun berupa pemandian umum seperti layaknya pemandian umum tradisional Jepang yang terbuka. Namun ada beberapa tempat pemandian umum yang cukup modern dengan menggunakan shower jongkok atau shower di dalam bilik-bilik kamar mandi layaknya pemandian umum. Berdasarkan cerita teman-temanku tersebut, tentunya aku membayangkan seperti itulah Hotel Kapsul tempatku menginap nanti.

Ternyata, saya sangat beruntung memesan Hotel Kapsul di Spa Safro!

Spa Safro ini ternyata merupakan “Capsule Hotel and Natural Hot Spring Spa“. Awalnya, saya mengira terdapat tempat khusus bagi pengunjung yang ingin menginap di Hotel Kapsul dan pengunjung yang ingin menikmati spa. Ternyata, pengunjung yang menginap di Hotel Kapsul diperkenankan menggunakan semua fasilitas spa yang ada di Spa Safro, mulai dari hot spring bath, sauna, dan spa. Wow! Saya benar-benar tidak menyangka bahwa Hotel Kapsul yang saya kunjungi “semewah” ini!

Spa Safro ini terdiri dari 2 bagian, yaitu ruang khusus pengunjung laki-laki dan pengunjung perempuan. Dengan dipisah seperti ini tentunya memberikan kenyamanan tersendiri bagi pengunjung perempuan untuk bebas berkeliaran secara santai. Ruangan khusus perempuan ini terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama adalah tempat resepsionis, loker untuk menyimpan tas dan barang-barang, dan Hotel Kapsul. Lantai kedua adalah tempat untuk hot spring bath dan sauna. Dan di lantai ketiga terdapat kamar mandi, meja rias lengkap dengan peralatan pembersih muka dan pengering rambut, kursi-kursi tempat berjemur, tempat ratus, tempat spa dengan hot stone, resto kecil bergaya Jepang, dan (ini yang paling menarik) deretan kursi lipat untuk bersantai dilengkapi dengan tv dan rak buku berisi ratusan komik! Ya, komik Jepang atau manga ini disediakan lengkap di ruang bersantai tersebut. Sayang sekali saya belum bisa bahasa Jepang sehingga belum bisa menikmati komik-komik tersebut.

Kalau mampir ke Sapporo, Hokaido dan ingin mencoba Hotel Kapsul, Spa Safro adalah tempat yang nyaman. Berikut ini beberapa spot di Spa Safro.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satu sudut bagian depan Spa Safro di Sapporo, Hokkaido

IMG-20121018-00657

Ruang loker untuk menyimpan barang-barang bawaan. Jika kita membawa koper atau ransel besar, bisa dititipkan di ruang penitipan barang, kemudian barang-barang yang kita butuhkan (seperti baju ganti) dapat kita simpan di loker ini.

IMG-20121018-00662

Deretan Hotel Kapsul

IMG-20121018-00663

Bagian dalam Hotel Kapsul

IMG-20121018-00659

Kamar mandi di Spa Safro, berupa bilik-bilik shower. Handuk, sabun, dan shampoo sudah disediakan.

IMG-20121018-00658

Bagian dalam kamar mandi

IMG-20121018-00665

Ruang untuk mengeringkan rambut, berdandan, dan juga membersihkan wajah. Di setiap meja rias terdapat pengering rambut, pelembab dan pembersih wajah, tissue, cotton bud, kapas.

IMG-20121018-00660

Ruang yang digunakan untuk bersantai sekaligus berjemur ketika musim panas

IMG-20121017-00656

Ruang favorit saya! Ruangan dengan kursi untuk bersantai yang dapat ditidurkan, lengkap dengan tv dan deretan lemari penuh komik disampinya. Heaven.

Itulah 4 kesan pertama yang menarik perhatian saya ketika pertama kali datang Jepang. Dan tentunya masih banyak hal lain yang menarik dari Jepang dan sangat mengesankan bagi saya, yang akan saya ceritakan lagi pada tulisan lainnya.

Ramadhan – London, UK

Angin kencang beserta udara dingin menghembus ditengah keramaian London sore itu. Bertiga dengan kawan saya, kami berjalan menembus keramaian Piccadilly Circus yang mulai hiruk pikuk dengan keramaian Jumat malam. Jam menunjukkan pukul 4.30 sore. Masih 3 jam lagi menuju waktu berbuka puasa, pikirku. Dengan barang bawaan yang cukup banyak, karena kami akan langsung menuju Heathrow untuk pulang ke Indonesia malam harinya, kami mampir sebentar ke sebuah kedai makanan untuk membeli makanan berbuka puasa sebelum akhirnya kami terduduk di kereta jalur Piccadilly Line menuju Heathtrow.

Perjalanan cukup panjang menuju Heathrow cukup membuat saya terkantuk-kantuk di kereta. Sempat tertidur sejenak ditengah hiruk pikuk penumpang sore itu. Setibanya di Heathrow jam menunjukkan pukul 6 sore. Kami belum menunaikan sholat Ashar. Sempat terpikir olehku, adakah tempat beribadah bagi kaum Muslim di bandara besar milik United Kingdom ini?

Setelah bertanya ke salah satu petugas kebersihan setempat, ternyata ada satu ruangan tempat beribadah bagi semua umat beragama. Tidak hanya Muslim, tapi juga agama lainnya. Tempat tersebut berlabel “Multi-Faith Prayer Room”. Di dalam ruang tersebut memang didominasi oleh umat Muslim yang menunaikan ibadah sholat 5 waktu namun, dideretan buku-buku agama yang tersedia, terlihat pula berbagai kitab agama lain selain Al-Quran. Perasaan bahwa agama bukanlah suatu pembeda yang signifikan terasa disini. Terlihat beberapa orang yang membaca Al-Quran dan disampingnya membaca Al-Kitab. Sungguh, betapa manusia memang memiliki keyakinan akan kebesaran Tuhan terasa disini.

Picture 621

Multi-Faith Prayer Room, tempat beribadah bagi semua umat beragama yang terletak di bandara Heathrow, UK.

Waktu tinggal 30 menit menuju waktu berbuka puasa. Kami memutuskan untuk berbuka di tempat ini sekaligus menunaikan ibadah sholat Magrib. Seketika pemandangan di ruang itu berubah menjadi hiruk pikuk umat muslim yang menyiapkan tempat untuk sholat Magrib dan berbuka puasa. Berlembar-lembar kain sajadah dibentangkan hingga keluar ruangan. Salah satu orang  yang sepertinya semacam pengurus masjid/mushola, menghampiri kami dan berkata bahwa kami dapat bergabung disana untuk berbuka puasa. Kami pun segera menuju tempat tersebut dan mulai duduk di sajadah-sajadah yang terbentang di luar. Sungguh, saya tidak melihat pandangan aneh dari orang sekitar. Saya malah merasakan empati dari beberapa umat agama lain yang tadinya sedang menunaikan ibadah di tempat tersebut dan kemudian mempersilakan kami untuk memakai ruang tersebut untuk berbuka dan sholat berjamaah.

Pengurus acara tersebut menyediakan buah-buahan, kurma, dan beberapa makanan serta minuman untuk berbuka. Ketika waktu berbuka tiba, segera kami berbuka dengan sajian makanan tersebut dan kemudian menunaikan ibadah sholat berjamaah. Semua terasa begitu cepat, tidak seperti ketika kita beribadah di masjid/mushola, karena tempat ini merupakan tempat beribadah pula bagi umat beragama lain, sehingga kami tidak bisa menggunakan tempat tersebut berlama-lama. Setelah sholat berjamaah selesai, kami diberi satu kotak makanan berisi nasi, kentang, beserta lauk pauk dan sayurannya.

Picture 620

Beberapa orang yang menunaikan ibadah sholat sebelum acara berbuka puasa dimulai.

Picture 619

Beberapa hidangan berbuka puasa yang disajikan oleh pengurus tempat beribadah tersebut.

Kebesaran Tuhan begitu terasa disini. Begitu pula dengan empati antar umat beragama. Ramadhan, selalu menjadi saat terindah bagi umat muslim dimanapun mereka berada. Kebesaran Allah SWT selalu ada dimanapun. Ramadhan yang indah, terima kasihku untukMu ya Allah.

Shalat – Singapore

Sinar matahari begitu menyilaukan sore itu. Kami berjalan di area trotoar yang disekitarnya sedang dibangun kawasan yang saat ini dikenal dengan nama “Marina Bay Sands”. Buruh-buruh bangunan yang rata-rata orang India berlalu-lalang disekitar kami.

Aku melirik arlojiku. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 waktu Singapura. Aku teringat bahwa aku belum shalat sejak Dzuhur. Kami memang termasuk Musafir, tapi dimanakah aku bisa menunaikan ibadah shalatku di kawasan seperti ini?

Aku dan teman-temanku menuju ke sebuah kawasan museum mengenai reservoir di Singapura. Rombongan kami terdiri dari 8 orang laki-laki dan 2 orang perempuan (termasuk aku). Teman perempuan di rombongan itu adalah teman kami yang bekerja di Singapura sebagai Lighting Designer, namanya Gita. Gita juga menggunakan hijab. Ketika teman-teman laki-laki kamu sedang sibuk berfoto-foto dan menelusuri sisi-sisi museum, aku menghampiri Gita sambil berbisik:

“Git, udah shalat?”

“Belum Put”, jawab Gita.

“Aku juga. Shalat dimana ya Git? Disini kira-kira ada mushola gak ya?”, tanyaku sambil melihat sekeliling barangkali tampak sebuah ruangan bertuliskan MUSHOLA.

“Wah, gak mungkin ada Put. Susah nyari mushola di tempat begini”

“Gimana dong Git?”

Kami berdua melihat sekeliling. Terlihat sebuah sudut bangunan di bagian atas taman tempat anak-anak bermain.

“Kita shalat disitu aja yuk!”, ajak Gita.

Aku tertegun sejenak. Shalat disini? Di tempat terbuka tempat orang lalu-lalang begini?

“Gak papa tuh Git shalat disitu?”, tanyaku kurang yakin.

“Ya gak papa lah!”, jawab Gita santai sambil mengajakku ke kamar mandi terdekat untuk mengambil wudhu.

Setelah berwudhu, kemudian kami berdua tersadar bahwa kami berdua sama-sama tidak membawa mukena.

“Gak papa gini aja, semoga cukup tertutup”, kata Gita.

Akhirnya kami shalat, ditengah-tengah orang yang berlalu-lalang di sekitar museum, di tempat terbuka dengan latar suara anak-anak yang bermain dan besorak-sorai.

DSC03929

Seusai shalat, aku terduduk di tempat aku melaksanakan shalat sore itu. Kulihat sekitarku. Begitu banyak manusia dengan aktivitasnya masing-masing. Aku melirik ke arah Gita yang masih khusyu berdoa. Subhanallah. Aku jadi teringat perkataan bahwa shalat itu dapat dilakukan dimanapun dan dalam kondisi apapun. Bukankah Rasulullah dan para Sahabat juga menunaikan ibadah shalat di padang pasir ketika mereka sedang berperang?

Gita tampak sudah terbiasa shalat ditengah-tengah orang yang beraktivitas seperti ini. Bekerja di Singapura, tentu berbeda dengan kita yang bekerja di Indonesia yang mendapat waktu istirahat untuk makan siang sekaligus shalat. Jika waktu sudah sore, Gita tentu harus pandai memanfaatkan waktu untuk shalat Ashar yang tentunya bukan aktivitas yang lazim dilakukan orang disekitarnya.

“Awalnya banyak teman-temanku yang bertanya, sedang apa sih aku, ketika aku sedang shalat”, cerita Gita.

Gita pun bercerita bahwa awalnya ada beberapa teman dikantornya yang awalnya kurang senang karena dia terkadang harus menunda pekerjaannya sejenak untuk shalat. Tentunya Gita harus berusaha menjelaskan dengan sabar kepada mereka.

“Alhamdulillah lama kelamaan mereka mengerti juga kok”, lanjut Gita sambil tersenyum.

Aku pun ikut tersenyum mendengar cerita Gita dan bersyukur, betapa indah dan nikmatnya menjadi seorang Muslim, yang dapat senantiasa memanjatkan doa dan syukur kepada-Nya setidaknya 5 kali dalam sehari.

Tantangan Energi Global: Energi Alternatif dan Efisiensi Energi

Di pagi hari itu, saya baru tiba di kantor dan segera menuju toilet untuk mencuci tangan. Seusai mencuci tangan saya hendak mengambil tissue untuk mengeringkan tangan. Namun sejenak saya urungkan niat saya ketika melihat onggokan sampah tissue di tempat sampah. Saya pun menuju mesin pengering tangan (hand dryer). Kemudian saya pun berpikir lagi, mengeringkan tangan dengan mesin sama artinya dengan menggunakan listrik dan bahan bakar fosil, mengingat listrik di Indonesia masih bersumber dari bahan bakar fosil. Akhirnya saya pun mengeringkan tangan dengan sedikit menggunakan baju saya, dan berpikir sepatutnya saya membawa saputangan untuk kondisi seperti ini.

Kejadian di pagi hari itu mengingatkan saya pada sebuah tagline yang disampaikan oleh Dr. Scott Tinker (Director of the Bureau of Economic Geology (BEG) & Director of the Advanced Energy Consortium) dalam sebuah luncheon talk mengenai Global Energy Project: “It’s time to make efficiency a habit. The smarter use of energy has many benefits.”

Efisiensi energi. Sebuah tindakan yang menurut saya dapat memberikan dampak yang baik pada ketersediaan sumber energi. Kita sendiri tentunya sudah memulai beberapa kebiasaan untuk sedapat mungkin menggunakan energi secara efisien. Contohnya, menggunakan bohlam lampu hemat energi dan mematikan lampu atau alat elektronik yang tidak diperlukan. Kasus saya mengeringkan tangan tersebut juga merupakan contoh bagaimana saya berusaha untuk menggunakan energi secara efisien. Kadang-kadang kita tidak sadar bahwa tindakan kita dapat membuang energi secara percuma. Disediakannya tissue dan alat pengering tangan di toilet umum membuat kita refleks mengeringkan tangan menggunakan barang-barang yang sebenarnya fungsinya dapat digantikan dengan saputangan atau handuk kecil. Itulah mengapa dalam melakukan efisiensi energi, perlu dilakukan tindakan yang cerdas dan didukung dengan pengetahuan yang cukup mengenai apa itu energi.

Mana yang lebih penting, efisiensi energi atau mencari energi alternatif (alternative energy)? Mungkin kalimat berikut ini dapat kita pikirkan baik-baik sebelum membahas mana yang lebih penting diantara keduanya:

 “Our challenge is not just to adopt alternative energies. But to deliver the same benefits as oil and coal, with fewer costs, and as quickly as possible. Can it be done?” – Dr. Scott Tinker

Energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil merupakan isu yang sangat penting di dunia untuk saat ini. Berbagai jenis energi alternatif mulai bermunculan seiring dengan kebutuhan energi pengganti bahan bakar fosil seperti biofuels, air, matahari, angin, natural gas, geothermal, hingga nuklir. Lalu, apakah dengan bermunculan banyaknya energi alternatif tersebut kita kemudian dengan mentah-mentah menggunakannya dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil? Tentu tidak. Kita perlu melihat terlebih dahulu, sejauh mana energi-energi alternatif tersebut dapat memberikan fungsi yang serupa dengan bahan bakar fosil. Inilah tantangan yang sesungguhnya dalam proses pencarian energi alternatif. Energi pada dasarnya dapat tertransfer dari media/bahan bakar apapun, sesuai dengan sifat energi yang kekal (Hukum Kekekalan Energi/Law of Conservation Energy), namun sejauh mana energi tersebut dapat digunakan dan memiliki fungsi yang serupa dengan energi dari bahan bakar fosil, itulah yang terpenting untuk dipahami.

Menurut Dr. Scott Tinker, terdapat 4 kriteria penting dalam memilih energi yang akan kita gunakan: affordable, available, reliable and clean (terjangkau, tersedia, dapat diandalkan, dan bersih). Apakah sumber energi alternatif tersebut sudah memenuhi kriteria tersebut? Mari kita bahas sedikit mengenai beberapa energi alternatif yang sudah tersedia di dunia ini.

Air 

Air merupakan sumber energi yang sudah teruji sebagai pembangkit energi listrik. Dengan mengandalkan gravitasi dan massa air dari hulu ke hilir, maka energi dari air tersebut dapat tertransformasi menjadi energi lain. Salah satunya adalah energi listrik.

37jatiluhur6

Waduk Jatiluhur, salah satu Waduk/DAM yang ada di Indonesia (Gambar: http://www.pantonanews.com)

Untuk dapat merubah energi dari air menjadi energi listrik diperlukan suatu sarana yang dikenal dengan Waduk/DAM. Pembangunan infrastruktur berupa Waduk/DAM tersebut, memerlukan biaya yang sangat besar. Selain itu, kendala lain menyangkut pembangunan infrastruktur adalah masalah topografi, mencari area dengan kualitas air yang baik sebagai sumber energi, sosial budaya, dan masyarakat sekitar area Waduk/DAM. Dan yang terpenting adalah masalah pengaruh iklim dimana sungai dapat mengalami masa kering/surut disaat musim kemarau.

Angin

Pemanfaatan energi dari angin sudah cukup banyak dilakukan oleh negara-negara di Eropa dan Amerika. Energi listrik yang dihasilkan oleh angin ini, dapat menghasilkan hingga 40 MW per-alat. Tantangan dalam pemanfaatan energi dengan sumber dari angin ini adalah proses transmisi, penyimpanan energi yang dihasilkan (energy storage), material/alat transmisi, dan pemanfaatan lahan serta infrastruktur.

wind-farm-sunset

Penggunaan tenaga angin (Gambar: triplepundit.com)

Matahari/Tenaga Surya

Pemanfaatan energi panas yang diperoleh dari matahari, sudah cukup banyak digunakan di dunia ini. Penggunaan tenaga surya tersebut sudah cukup banyak terbukti dapat menjadi pengganti bahan bakar lain untuk menghasilkan energi listrik.

 How-Solar-Power-Works

Tidak seperti energi yang bersumber dari air dan angin, tenaga surya dapat digunakan dalam skala yang cukup kecil, seperti di rumah. Beberapa daerah di Amerika, sudah mulai memasyarakatkan penggunaan tenaga surya dengan menginstalasi alat transfer energi tersebut di rumah-rumah.

solar-panel-houses

Pemasangan panel untuk tenaga surya untuk perumahan di Amerika (Gambar: http://www.wired.co.uk)

Walau demikian, usaha untuk memaksimalkan penggunaan tenaga surya skala besar juga mulai diupayakan di berbagai negara. Instalasi peralatan dan teknologi untuk memanfaatkan tenaga surya berskala besar membutuhkan lahan yang cukup luas serta manufaktur yang tidak simpel. Penyimpanan energi (energy storage) juga menjadi masih menjadi tantangan tersendiri dalam pemanfaatan tenaga surya skala besar ini.

00_ENERGY_shutterstock_67258750_solar_659px

Panel-panel yang digunakan untuk menangkap tenaga surya berskala besar (Gambar: http://www.freeenterprise.com)

Di Indonesia, tenaga surya juga sudah mulai dimanfaatkan. Salah satunya adalah untuk lampu penerang yang dapat kita temui di jalan tol, antara lain jalan tol Sedyatmo dan jalan tol Cipularang.

300px-Tol_Sedyatmo_KM_24,4

Lampu jalan tenaga surya (Gambar: id.wikipedia.org)

Berbagai perkembangan energi alternatif yang masih terus dikembangkan di dunia ini memiliki tantangan khusus dalam perannya sebagai pengganti energi fosil. Energi dari air, angin, dan matahari merupakan beberapa contoh energi alternatif yang bersih dan terbukti dapat diandalkan, namun masih memiliki tantangan dari segi biaya, manufaktur, penyimpanan, skala, dan juga keberadaannya yang intermitten dan bergantung pada iklim. Energi alternatif lain seperti nuklir dan geothermal, memiliki tantangan yang jauh lebih besar terutama dari segi ilmu dan teknologi.

Inilah tantangan terbesar energi secara global saat ini, terus mencari dan memanfaatkan ilmu dan pengetahuan dalam memperoleh energi alternatif dan efisiensi dalam penggunaan energi. Keduanya harus berjalan seiringan. Hanya mencari energi alternatif, tidak akan menyelesaikan masalah energi secara global, karena pertambahan penduduk di bumi jelas mengkonsumsi energi yang semakin banyak. Sangat perlu dilakukan tindakan yang cerdas dari setiap insan di bumi untuk menggunakan energi secara efisien.

Di Indonesia, efisiensi energi tersebut juga sudah menjadi isu yang cukup penting. Saran untuk menghemat listrik, menggunakan transportasi umum, mengurangi penggunaan bahan bakar, sudah sangat banyak disosialisasikan. Pemerintah Indonesia pun sudah mengeluarkan peraturan untuk mengatur penggunaan listrik dan bahan bakar yang diatur dalam Peraturan Menteri ESDM RI No. 12 Tahun 2012 Tentang Pengendalian Penggunaan Bahan Bakar Minyak dan Peraturan Menteri ESDM RI No. 13 Tahun 2012 Tentang Penghematan Pemakaian Tenaga Listrik.

Peraturan tersebut sangat rinci dalam mengatur pemakaian listrik terutama untuk gedung negara, gedung BUMN, BUMD, dan BHMN, rumah pejabat negara, dan jalan umum, lampu hias, dan papan reklame. Bahkan, hingga penggunaan lampu, ac, hingga penggunaan ekskalator dan printer pun sudah diatur dalam peraturan tersebut. Apakah kita sebagai Warga Negara Indonesia sudah memahami dan menjalankan peraturan-peraturan tersebut? :D

Mari kita bersama-sama dengan cara yang cerdas melakukan efisiensi energi sebaik-baiknya. Dan tentu saja, juga terus aktif mengembangkan ilmu dan pengetahuan agar dapat mengembangkan energi alternatif sebagai bahan pengganti energi fosil.

Pertamina

Tagged , ,

Kekuatan Kata-kata.

Hari ini kantor saya mengadakan in house training mengenai Public Speaking. Pengisi materi adalah para pakar dari TALKinc, yaitu mas Ferry Fibriandani dan mbak Becky Tumewu, yang sudah sangat berpengalaman dalam bidang Public Speaking tersebut. Semua materi yang diberikan menarik dan sangat bermanfaat bagi saya, terutama masukan-masukan yang membangun untuk dapat berkomunikasi yang baik, benar, efektif, sehingga pesan dan ide yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik pada audience.

Ada satu hal paling menarik dan berkesan bagi saya ketika kedua fasilitator tersebut memutar sebuah video sebagai berikut.

 

Dari video tersebut dapat kita lihat betapa pentingnya sebuah kata dalam menyampaikan pesan dengan baik. Ini adalah point terpenting bagi saya dalam sebuah komunikasi yang baik. Selama ini, saya sering melihat banyak sekali orang yang begitu percaya diri dalam berbicara dan sangat berani dalam menyampaikan idenya di depan umum. Apalagi di zaman sekarang, manusia bebas berpendapat lewat berbagai media, sehingga rasanya semakin banyak orang yang percaya diri dan mampu berbicara di depan umum.

TAPI. Apakah benar pesan yang ingin mereka sampaikan itu benar-benar tersampaikan dengan baik?

Kalau kita lihat belakangan ini, banyak sekali orang yang sering salah paham atau membuat sebuah pernyataan yang kemudian menjadi kontroversial dan ditentang banyak orang. Dan hal ini, sangat mengganggu saya beberapa waktu belakangan ini. Dalam hati saya sering bertanya, “ini orang ngomongnya gimana sih?”. Saya amati banyak sekali orang yang “salah ngomong”, membuat pernyataan “begini”, ditafsirkan oleh orang lain “begitu” yang kemudian dikritik atau ditentang habis-habisan, kemudian orang tadi bicara lagi bahwa “bukan itu maksud saya, begini loh”, dan itu berlangsung berulang-ulang kali bahkan kadang bisa jadi merembet ke ranah hukum atas nama pencemaran nama baik atau menyebarkan berita bohong. Wow. Sampai kapan sih hal ini akan terus terjadi? Saya kadang berpikir, ini dimana yang salah? Apakah memang manusia sudah dengan asiknya berbicara seenaknya tanpa dipikir dulu begitu saja walaupun itu di sebuah forum formal sekalipun?

Dari training hari ini saya menemukan point pentingnya. Betapa sebuah kata-kata itu perlu dijaga dan dibentuk sedemikian rupa jika kita ingin orang yang mendengar kita itu menangkap dengan baik maksud dan pesan kita itu apa. Video yang diputar oleh mas dan mbak fasilitator tadi menunjukkan betul, bahwa kata-kata, dalam bentuk apapun, jika dikemas dengan baik dapat menghasilkan efek yang besar, bahkan luar biasa. Begitu pula sebaliknya, jika kita salah mengemas kata-kata kita, itupun akan berefek yang buruk pula. Dan hal ini tentu juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari, seperti contoh dalam video tersebut. Bukankah terkadang kita juga menjaga atau memilih kata pada seseorang untuk menjaga perasaan mereka? Mungkin semacam itu prakteknya.

Tampaknya saya sendiri masih harus belajar banyak untuk peka terhadap kata-kata. Banyak orang yang berhasil merubah dunia juga memiliki kata-kata yang bagus, indah, dan bahkan berhasil menjadi quotes. That’s the power of words! 

So, lets manage our words :D

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.